Dimas (Sebuah angan yang harus terpapar realitas hingga memudar)
Untuk pertama kalinya aku
berhenti tercengang ketika mendengar nama itu. Ya Dimas, Dimas Analis Yudha
tepatnya. Dia tidak pernah ada, dia hanya sebuah nama. Sebuah nama yang dibuat
orang tuaku dengan begitu indahnya hanya untukku seorang. Bingung? Dulu sebelum
aku terlahir di dunia ini aku adalah seorang janin yang diprediksi terlahir
sebagai seorang putra dari keluargaku. Putra bungsu tepatnya, adik dari 2 kakak
perempuan. Dimas Analis Yudha adalah
nama yang akan aku sandang jika aku terlahir sebagai seorang putra. But, life has his own way, aku terlahir
sebagai seorang putri. Seorang putri yang normal seutuhnya and now my name is Riska
Indriastuti, my father’s choice!
Aku pernah bertanya pada ibuku, kenapa aku tidak diberi nama Dimas saja kala itu, ibuku hanya
menjawab beliau tidak pernah terpikir mempunyai seorang putri yang dipanggilnya
Dimas. Beliau melihat antusiasme ku
atas nama Dimas itu, beliau berkata
‘mungkin nanti jodohmu bernama Dimas
ndug’ mungkin baginya hanya sebuah kata-kata untuk menghiburku, tapi ternyata
aku tersugesti dengan kata-kata itu. Selama bertahun-tahun setiap mendengar
kata Dimas, telinga dan mataku
terasa menjadi lebih tajam. Mencari siapa siempunya nama Dimas. Unfortunately, Dimas tidak pernah ada dalam cerita
hatiku. Berteman dengan seorang yang bernama Dimas pun tak pernah seingatku. Ya Dimas hanyalah sebuah nama dan sebuah obsesiku yang terlupakan.
Mungkin Dimas akan hadir dengan nama
lain yang lebih indah nanti. Dimas,
sebuah nama yang akan berarti nantinya. Jikalau Dimas bukan lah pendampingku mungkin saja dia akan menjadi mujahid
kecilku kelak. Maupun sudah sedikit terlupakan, namun Dimas sebenarnya tetap akan terus hidup karena Dimas adalah aku dan aku adalah Dimas. Nice to know you Dimas Analis Yudha, see you soon in the future!
Ps. Di penghujung malam, di dalam remang malam,
dinaungan kerlip cahaya senter hp
Unires M402, nokia, suara
jangkrik dan kipas angin.
0 komentar:
Posting Komentar