Rabu, 23 Juli 2014

Missing Piece

 Dunia tidak lagi sama.
Hidup ini menjadi asing .
Aku sedih untuk sesuatu yang tak kutahu. Aku galau untuk sesuatu yang tidak ada.
Dan jari ini ingin menunjuk sesuatu yang bisa menjadi sebab, tapi tak kutemukan apa-apa.
Pada saat yang sama, seluruh sel tubuhku berkata lain.  Mereka
 tahu sesuatu yang tidak dapat digapai pikiran.
 Apa rasanya, jika tubuhmu sendiri menyimpan rahasia darimu?
-dee-
 
Aku tak tahu kapan pastinya aku mulai merasakan ini. Yang pasti aku sering merasakannya akhir-akhir ini. Rasa yang diam-diam bercengkrama dengan mimpi, berbisik dengan angin, memeluk dengan dingin. Rasa aneh yang terasa ketika seseorang yang dekat dengan kita mengalami sesuatu yang buruk. Firasat atau apalah itu namanya.
Rasa tidak nyaman akan sesuatu tanpa kita tahu sesuatu itu apa. Ada bagian yang hilang. Seperti ketika membaca buku hanya awalnya dan akhirnya saja, tanpa tahu apa yang terjadi di tengah cerita. Hanya bisa meraba-raba dan menerka.
Rasa itu menjadi sangat menusuk ketika dia datang mengganggu mimpi di malam hari dan menemukan gurat kenyataan yang sama esok paginya. Sering kali tak sanggup ku tanya kan apa yang terjadi, hanya membaca raut yang tergurat. Kadang gurat sedih itu terlalu dalam hingga tak sanggup aku selami. Kadang terlalu terlambat untuk mengetahuinya.
Itu menyesakkan. Ketika diri tahu sesuatu akan terjadi tapi tidak tahu apa itu. Sibuk bertengkar dengan terkaan tanpa tahu apa yang harus dilakukan. 

“Sesuatu yang memang harus terjadi akan terjadi. Kalau kamu rasa perlu memperingatkan, pasti kamu akan dimampukan. Tapi kalau ternyata tidak perlu, sekuat apapun kamu kepingin, kamu tidak akan bisa” –someone-

0 komentar:

Posting Komentar