Kamis, 09 Januari 2014

dinner


Makan malam bersama adalah hal yang lumrah di sebuah keluarga. Begitupun dengan keluarga ku. Tapi kami lebih sering melakukannya accidentlly dan tak tahu waktu. Keluarga ku bukanlah keluarga yang menjadwal pada jam berapa harus makan malam, bagi kami ketika lapar makan lah, itu saja. Simple. Tapi entah mengapa ketika kami menjadwalkan selalu saja ada yang membuatnya gagal (kecuali ketika Ramadhan). Pernah sekali, kami serumah sudah makan malam (sendiri-sendiri tentunya), kucrit-kucrit juga sudah kenyang dan dasarnya keluarga ku adalah eaters, jam 10 malam kami kelaparan dan pengen nyemil. Tanpa babibu bapak mengutus aku dan partner in crime (mba Dian) untuk membeli mie tek tek dekat rumah. Dan berlanjut untuk kumpul makan bersama. Tak sekali dua kali itu terjadi, seringkali kami menyerbu mie ayam, lontong sayur, lontong campur atau hanya sekedar makan mi instan rame-rame dalam satu mangkok. Kadang juga terjadi pesta kebun dadakan. Kebun belakang rumah yang selalu jadi favorit orang serumah buat nongkrong sore-sore atau sekedar main kucing, selalu jadi korban pesta kebun dadakan. Yang hanya sekedar makan nasi-lauk rame-rame, atau emang niat bikin makanan trus dimakan disana.
Entahlah bagiku momen-momen seperti inilah yang mengeratkan keluargaku. Bapak yang entah mengapa selalu saja dengan ringan hati menyuapi anak-anaknya dan cucu-cucunya, meskipun kami telah beranjak dewasa seperti ini. Ibu yang selalu ngalahi anak-anaknya, yang rela makanannya dicomot kanan kiri oleh anak-anaknya, ibu bapak yang kadang berbagi makanan bersama (damn so sweet).Obrolan-obrolan ringan bisa jadi arena curhat ibu-bapak-anak-mantu-cucu. Recharge stok makanan hati untuk aku ketika harus kembali menuntut ilmu jauh dari rumah. Yah saat dinner saat yang aku nantikan, meskipun hanya sebentar dan sederhana tapi tawa canda percakapan itu yang lebih penting dan mendalam.

(Diantara packing untuk besok balik Jogja lagi, will miss our dinner so much :'))

0 komentar:

Posting Komentar