Dea
Tuhan, bagaimana ini. Hatiku rasanya tak karuan seperti anak belasan
tahun yang melakukan kencan pertamanya. Dia datang Tuhan, apakan wajahku
memerah?
Lihatlah dia masih seperti dia jaman kuliah dahulu. Maupun rambutnya
tak lagi gondrong, badannya pun tak secungkring dulu, membuatnya lebih menarik.
‘Hai De’
‘Hai Ri’
‘Udah lama? Udah mesen?’
‘Baru aja kok, ni baru baca review nya ini nih ’ kutunjukkan The Boy
Next Door-nya Meg Cabot
‘Mau pesen apa? Espresso? Cappuccino? Moccacino? apa Frappucino?’
kutawarkan kopi-kopi kesukaan ku padanya
‘Mmm...frappucino aja yang ringan, biar lebih dingin dan santai’
jawabnya dengan muka jenakanya
‘hhahaha, mukanya biasa aja kali Ri’
‘Biar kamu ketawa De, udah lama gak liat kamu ketawa hhee’
Damn! Muka ku memerah (lagi)
Bermenit-menit selanjutnya kita tenggelam dalam obrolan-obrolan aneh
dan sedikit gila, diselengi suara cekikikan kadang tertawa lepas. Lihatlah aku
tertawa lepas.
Rio
Hei
look at the girl in the corner, yang sibuk membolak-balik buku ditanganya. Kuhampiri
dia yang semangat melambaikan tangannya ke arahku. Senyumnya sudah terbit
kembali seperti dulu. Ditawarkan semua minuman kesukaannya padaku, tapi masih
ada galau di raut wajahnya. Kumainkan ekspresi mukaku untuk menghiburnya, dan
voila, berhasil tawanya pecah juga akhirnya. Lepas, bebas, cantik.
Banyak
cerita yang dipendamnya selama ini, meluncur deras tanpa terbendung. Membuatnya
tertawa disetiap cerita sedihnya, melihat bebannya pelan-pelan terangkat,
membuatku lega. Tatapan matanya membuat sesak hatiku. Apalah perasaan ini
namanya. Ini bukan saatnya aku merasa
seperti ini lagi.

0 komentar:
Posting Komentar