Kamis, 02 Januari 2014

Reunion #PartII




Dea
Tuhan, bagaimana ini. Hatiku rasanya tak karuan seperti anak belasan tahun yang melakukan kencan pertamanya. Dia datang Tuhan, apakan wajahku memerah?
Lihatlah dia masih seperti dia jaman kuliah dahulu. Maupun rambutnya tak lagi gondrong, badannya pun tak secungkring dulu, membuatnya lebih menarik.
‘Hai De’
‘Hai Ri’
‘Udah lama? Udah mesen?’
‘Baru aja kok, ni baru baca review nya ini nih ’ kutunjukkan The Boy Next Door-nya Meg Cabot
‘Mau pesen apa? Espresso? Cappuccino? Moccacino? apa Frappucino?’ kutawarkan kopi-kopi kesukaan ku padanya
‘Mmm...frappucino aja yang ringan, biar lebih dingin dan santai’ jawabnya dengan muka jenakanya
‘hhahaha, mukanya biasa aja kali Ri’
‘Biar kamu ketawa De, udah lama gak liat kamu ketawa hhee’
Damn! Muka ku memerah (lagi)
Bermenit-menit selanjutnya kita tenggelam dalam obrolan-obrolan aneh dan sedikit gila, diselengi suara cekikikan kadang tertawa lepas. Lihatlah aku tertawa lepas.


Rio
Hei look at the girl in the corner, yang sibuk membolak-balik buku ditanganya. Kuhampiri dia yang semangat melambaikan tangannya ke arahku. Senyumnya sudah terbit kembali seperti dulu. Ditawarkan semua minuman kesukaannya padaku, tapi masih ada galau di raut wajahnya. Kumainkan ekspresi mukaku untuk menghiburnya, dan voila, berhasil tawanya pecah juga akhirnya. Lepas, bebas, cantik.
Banyak cerita yang dipendamnya selama ini, meluncur deras tanpa terbendung. Membuatnya tertawa disetiap cerita sedihnya, melihat bebannya pelan-pelan terangkat, membuatku lega. Tatapan matanya membuat sesak hatiku. Apalah perasaan ini namanya. Ini  bukan saatnya aku merasa seperti ini lagi.
 



0 komentar:

Posting Komentar