Ya Allah semua berlalu
begitu cepatnya. Tak terasa rambut Ibu dan Bapak sudah banyak yang memutih. Kerut
usia di wajah kami para anak makin terlihat. Cucu-cucu pun bermunculan.
Besok hari lebaran Pak, Bu...
Kami ingat betul betapa
repot Ibu dan Bapak menyenangkan hati kami yang masih kecil dulu. Memilihkan baju-baju
nan cantik. Sepatu-sepatu warna-warni. Penjepit rambut berhiaskan bunga-bunga
kecil. Membuatkan kue-kue nan manis. Ibu, Bapak kami tersenyum dan tertawa
bahagia oleh itu semua..
Kami juga ingat betul
betapa sedihnya Ibu dan Bapak ketika lebaran pertama setelah kecelakaan itu. Meski
baju baru tetap ada, sepatu dan penjepit rambut masih tersedia, kue dan segala
macam makanan khas hari raya tetap terhidang, namun semua terasa tidak sama
lagi. Kata-kata tak mampu menjelaskannya tapi kami tahu itu Pak, Bu. dan kami
pun tetap tertawa dan tersenyum bahagia untuk Bapak dan Ibu..
Kami juga ingat betapa galaunya
Ibu dan Bapak melihat kami tak memakai baju baru pada suatu hari raya. Kami sudah
besar saat itu Pak, Bu. Kami pun sudah melihat hari lebaran bukan semata
tentang baju dan pernak-pernik yang serba baru lagi. Tapi entah mengapa malam
takbir itu engkau, Ibu kami tersanyang menatap kami sambil meneteskan airmata. Sungguh
Ibu kami tak apa. Lihatlah kami pun masih tertawa bahagia esok paginya..
Ibu, Bapak..
Berpuluh tahun lalu engkau
berdua berusaha menyenangkan hati kami. Pun hingga sekarang. Sungguh tak pernah
rela hati kami melihat tetes airmata kesedihan di wajah Ibu dan Bapak.
Pak, Bu, anak-anakmu sudah
besar sekarang. Ijinkan kami membalik keadaan yang dulu engkau berdua hadirkan
untuk kami. Biarlah sekarang kami yang memilihkan baju-baju nan indah, sepatu-sapatu
nan mengkilap, membuatkan kue-kue nan manis dan sajian khas lebaran.
Biarkanlah kami yang
melakukannya..
Duduklah tenang dan jangan
lagi risaukan kami..
Kami bahagia meski tanpa
baju baru seperti Ibu dan Bapak bahagia melihat kami memakai baju baru dulu...
Sungguh ...
Ramadhan 1435 H

0 komentar:
Posting Komentar